Gerakan Pemuda Pasca Kekalahan Jepang

Pada setiap zaman pemuda selalu menjadi motor pembawa perubahan. Oleh karena itu, kualitas pemuda akan sangat menentukan kualitas negara pada masa depan. Kondisi inilah yang terjadi di Indonesia menjelang proklamasi kemerdekaan.

Pemuda memiliki peran penting dalam pelaksanaan proklamasi kemerdekaan. Pada tanggal 15 Agustus 1945 Soekarno, Moh Hatta dan Radjiman Wediodiningrat kembalia ke Indonesia dari Dalat, Vietnam.

Kedatangan mereka langsung disambut oleh tokoh-tokoh muda Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir. Dalam pertemuan singkat tersebut, Sutan Sjahrir menjelaskan bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu. Selanjutnya, terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda mengenai proklamasi kemerdekaan.

Golongan tua terdiri atas Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Soebardjo dan dr. Radjiman, sedangkan golongan muda terdiri atas Sutan Sjahrir, Chaerul Shaleh , Wikana dan Darwis. Golongfan muda mendesak Soekarno agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Golongan muda khawatir jika sekutu mengembalikan kekuasaan belanda di Indonesia.

Usul untuk mempercepat proklamasi kemerdekaan ditolak oleh golongan tua. Soekarno belum yakin bahwa jepang telah menyerah kepada sekutu. Jika proklamasi kemerdekaan ntetap dipaksakan, besar kemungkinan terjadi pertumpahan darah, akibatnya akan fatal jika para pejuang Indonesia belum siap.

Soekarno juga mengingatkan bahwa Sutan Sjahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan Indonesia nkarena itu adalah hak panitia persiapan kemerdekaan Indonesia( PPKI).

Sebaliknya, Sutan Sjahrir menganggap jika proklamasi kemerdekaan dilakukan oleh PPKI, akan muncul kesan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah “Hadiah” dari Jepang. Sementara itu, Hatta tidak mempermasalahkan proklamasi sebagai hadiah Jepang atau hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri.

Menurut Hatta, hal terpenting adalah Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Soekarno kemudian menemui Laksamana Maeda di kantor Bukanfu di jalan Imam Bonjol, Jakarta. Seokarno ingin memastikan sendiri kebenaran berita tentang menyerahnya Jepang itu.

Akan tetapi, Laksamana Maeda belum bisa membenarkan berita tersebut karena masih menunggu intruksi dari Tokyo. Soekarno kemudian menemui anggota PPKI dan berencana mengadakan rapat . rencananya, rapat akan diadakan pada tanggal 16 Agustus 1945 untuk membahas Undang-Undang Dasar yang sudah disiapkan oleh Hatta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *